Bangsa Yang Masih Layak Dipertahankan
Saturday, 19 December 2009 6:27 pm - Dikunjungi 58 kali, 3
Undangan sudah disebar, tenda sudah dipasang, pelaminan sudah ditata rapih. “Tangal 4 November Pak Abdi (warga Korong Pauh Kamba Hilir, Kec. Nan Sabaris, Padang Pariaman yang disamarkan namanya) mau menikahkan anak perempuannya. Gempa membuat rumah dan rencana beliau berantakan. Sekarang Pak Abdi jadi aneh, suka ngomong sendiri..,” bisik Syafrizal (39), tetangga Pak Abdi.
Lain Pak abdi, lain pula cara Tiar, warga Kecamatan Nanggalo dalam menyikapi gempa yang membelasah rumahnya. Dua hari tinggal di tenda terpal membuat tangannya gatal. Alih-alih memasang karton bekas mi cepat saji di depan reruntuhan untuk mengais belas kasih, Tiar memulung kayu, papan, seng, dan material bangunan dari puing-puing rumahnya sendiri. Gergaji dan palu dimainkan. Tanpa perlu “berisik” menyiarkan penderitaannya, Tiar membangun sendiri hunian sementara untuk keluarganya.
Demikian juga “pilihan” yang diambil Mursyidah (57), warga Ulakan Tapakis yang lebih suka turun ke sawah menyiangi rumput daripada duduk termenung di bawah terpal. “Rumah sudah hancur apa mau dikata, tapi kalau sawah dibiarkan telantar juga, harapan kami untuk panen bisa musnah juga,” ucap ibu paro baya sambil mengusap peluh yang meleler di jidat dengan punggung tangan belepotan lumpur.
***
Bila tiba bencana sunguh tak bisa diduga. Di mana ia melanda, sejauh teknologi manusia hanya bisa menduga-duga. Bencana bisa menimpa siapa saja, kaya miskin tidak beda. Berpangkat atau jelata, tua muda, lelaki atau wanita, semua bisa menjadi korban bencana. Yang membuat beda adalah bagaimana kita menyikapinya.
Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Cobaan kepahitan yang Allah berikan berupa malapetaka, kesengsaraan, kesusahan, rezeki yang dibatasi, tidaklah Allah maksudkan untuk menghinakan hambaNya, tetapi untuk mencobanya. Jika ia tetap taat kepada Allah dan bersabar dalam keadaan demikian, maka ia akan mendapat kebahagiaan. Jika ia mendurhakai Allah dan tenggelam dalam keputusasaan, maka ia hanya mendapat penderitaan.”
Bencana memang mudah meruntuhkan kondisi psikologis korban. Seorang nenek di Tandikek (wilayah bukit longsor akibat gempa), padang Pariaman langsung melompat keluar tenda begitu ada mobil pick up penuh bermuatan kardus lewat di jalan depan bekas rumahnya. Ia menggapai-gapai, berteriak-teriak minta diberi sesuatu sambil mengangkat kain dan mengejar mobil lembaga bantuan itu. Upayanya gagal, pick up penuh logistik itu berlalu, si nenek menyumpah serapah sambil mengacung-acungkan tinju.
Anak-anak kecil di sana rupanya lebih “cerdas”. Mereka melintangkan kayu kaso, kulit pohon kelapa, dan apa saja yang bisa menghambat laju kendaraan yang lewat. Kalau perlu, anak-anak kecil itu pasang badan sambil mengacung-acungkan kardus kosong, “Uda.. bantuan Da.., bantuan Da…!!”
Kalau Anda sensitif, pemandangan seperti itu lebih membuat hati ngilu daripada tumpukan puing dan wajah-wajah muram.
Dalam perspektif Islam, bencana bisa memiliki tiga makna. Pertama, bencana adalah sebuah peringatan. Musibah ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, namun masih suka melakukan kemaksiatan. Meyakini Islam sebagai rahmatan lil alamin tetapi melakukan pemerkosaan terhadap alam. Menebangi pohon seenak udel, meracuni sungai dan laut dengan limbah beracun, termasuk misalnya: membuang sampah sembarangan.
Peringatan yang disampailkan melalui bencana sudah ditegaskan dalam firman Allah yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum 30 : 41).
Kedua, bencana sebagai cobaan. Musibah ditujuan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menguji sejauh mana ketangguhan iman mereka apabila menghadapi cobaan. Kehilangan harta benda, sanak saudara, bahkan kehilangan seluruh yang dimiliki di dunia ini bisa menjadi batu uji agar seorang hamba kembali bisa mensyukuri nikmat Allah yang tiada terkira. Bukankah Allah menggaransi ujian yang diberikanNya tidak akan melewati ambang kemampuan hambaNya?
Maka secara terbuka Rasulullah menyatakan kekaguman kepada muslim yang mendapat cobaan bencana, mampu mengatasinya, dan keluar sebagai pemenang dengan kualitas iman yang mengilap. “Sungguh sangat mengherankan keadaan seorang muslim sebab segalanya menjadi baik, bila ia mendapat nikmat ia bersyukur dan bila mendapat musibah ia bersabar. Sungguh, syukur dan sabar itu lebih baik bagi dirinya.” (HR. Muslim).
Nah, ada kalanya bencana bisa menjadi sebuah azab (punishment) yang dijatuhkan atas ummat yang dzalim dan ingkar. Pengingkaran berat yang sudah menjadi jamak (masif), dilakukan terus menerus, dan tak kunjung tumbuh kesadaran meski peringatan berkali-kali disampaikan, niscaya akan mengundang azab Allah.
Jika saja peringatan yang disampaikan Nabi Luth AS ditaati, pemusnahan bangsa Soddom Gomora mungkin tidak terjadi. Bukankah dalam kesatuan mesin jika suatu komponen rusak dan tidak bisa diperbaiki lebih baik dilenyapkan/diganti daripada menularkan kerusakan ke komponen yang lain?
Mudah-mudahan rangkaian bencana alam yang sedang kita hadapi bisa kita sikapi sebagai peringatan agar kita tidak terus semena-mena sebagai sebuah bangsa. Mudah-mudahan musibah-demi musibah ini mampu mengasah kepekaan kita sehingga “tanda-tanda yang turun dari langit dan menyeruak dari dalam bumi” itu menjadikan kita sebagai bangsa yang pandai bermuhasabah, bangsa yang mampu bersikap benar dalam menghadapi cobaan.
Mudah-mudahan kita belum telanjur menjadi bangsa yang layak dimusnahkan.








qomar berkata :
7 January 2010 pada 9:27 pm
innalillah wainnailaihirojiun.. sabar dan berserah diri kepadanya, karena tidak ada satu kejadian pun di dunia ini yang tidak terpantau oleh sang pencipta..
musadaud berkata :
8 January 2010 pada 6:13 pm
Alloh. Betulkan isi titik2nya ^_^
Syukran ya sudah komen ^_^